Blog

Engkau : Biang Puisiku

Pada senja kesumba ini, Surat cintaku bertaburan serbuk sari marjorie Berlatar kuning muda diatas kertas warna gading Menegaskan bentuk tulisanku yang tegak bersambung. Tercipta rongga pada setiap alinea yang akan terisi tulisan tanganmu nantinya. Tiada terlewatkan pada setiap barisnya namamu selalu diawali dengan huruf kapital. Dan tersemat disudut kata perlambang cinta, sebentuk hati merah jambu … Lanjutkan membaca Engkau : Biang Puisiku

Spasi Untuk Kita

Kurengkuh cahaya purnama di kening malam, kulerai rindu di dada biru. Diam tanpa kata, bungkam ketika setangkup rautmu kian merentang di angan. Kusekap jarak ini, sebagai spasi untuk kita kembali bertemu, meski kerap denyut jantung detakkan sunyi, menikam jingga…. lalu… menghilang dipinang langit kelam. Dan padamu lelaki yang kutitipi sebuah rasa, yang menguasai samudra rinduku, … Lanjutkan membaca Spasi Untuk Kita

Lelaki Puisiku

Senja telah kembali, sementara aku masih bercengkerama dengan waktu, menggubah namamu menjadi detak – detak rindu. Engkau yang kusebut kekasih, yang menguasai seluruh ruangku, pijarkan binar dijalanku hingga tak pernah terlintas sedikitpun untuk beranjak darimu. Karena aku tahu, engkaulah wujud nyata yang rebaskan derai rintih dari genggam lara, menerbitkan lengkung senyum menghiasi hari-hari, selayak wajah … Lanjutkan membaca Lelaki Puisiku

Menuju Dermaga

Pada awalnya semua biasa saja, tatapi kini menjadi yang luar biasa. Engkau adalah pemilik hatiku yang tak jemu mengirimiku rindu yang begitu membangkang, mengalirkan aksara dari pertama hingga menjadi ribuan diksi tanpa titik yang mengakhiri. Dan yang luar biasa itu kini menjadi begitu hebat, yang tadinya pahit menjadi begitu manis, kautahu bukan? Engkau adalah rindu … Lanjutkan membaca Menuju Dermaga

Permata Dan Tabahnya

Muram senja menua berlalu dari matamu. Samar garis cakrawala terlihat magenta. Hitungan rindu tak berangka, kata tak tereja dikulum senyum dalam gundukan sunyi menggunung. Namun jiwamu terbaca setara bebatuan, tak geming dicerca hujan, seakan ribuan kekuatan terpatri dalam satu tabah. Bening, kemilau bersinar dipacaran tatapmu, yang kuserupakan bias siluet mentari, hangat menelusup di jiwaku setiap … Lanjutkan membaca Permata Dan Tabahnya

Menulis Semoga

Kusibak tirai kabut di antara senja dan remang, kurayu pilu di bahu magrib. Sunyi, bisik seribu pinta mengalir di pelupuk do’a, berujung isak tumpah berlinang. Ada selarik angan senja tadi, menjadi bait-bait tereja tanpa bahasa, berharap terbaca malam untuk menemui senyummu yang telah kaugantungkan dilengkung sabit. Sementara legenda cinta lawas terus mengusik, gerimis terus merintik. … Lanjutkan membaca Menulis Semoga

Inginku Meminang Bahagia

Hari ini, Mei hanya tinggal hitungan jari, meski seharusnya musim telah hadir menggilir, namun hujan masih saja membasahi siang kita. Sementara kepak sayap camar telah menuju haluan, pada indahnya asa yang berjejer di dermaga impian. Dan aku menjadi yang terus berharap bahwa nafas rindumu adalah senyumku, debar dadamu adalah cintaku dan melansir hasrat untuk lebur … Lanjutkan membaca Inginku Meminang Bahagia

Kubaca Risalah Darimu

Seberapa kuat inginmu kala semua celah bertirai kabut. Kerlip gemintang di matamu pun begitu redup. Sendu menatap rindu yang riuh berdatangan tak mengenal waktu. Tak ada lagi yang kaukidungkan, setelah katup malam berkisah tentang hangat pelukan kemarin, yang mengarak rindu semakin jangkit, mewabah bersama riuhnya semoga yang sedemikian mengangkasa. Bagimu, kita adalah sepasang waktu yang … Lanjutkan membaca Kubaca Risalah Darimu

Ini Rindu

Dulu, ketika selisih menukik tajam, menusuk faham merobek dada percaya, tiba-tiba langit meramu kelabu, menggerimiskan rintik membelai perih dadaku. Dingin menembus setiap pori, merambah sekujur lara. Sejak saat itu engkau melepaskan tanganku dari genggamanmu. Meski pada rengkuh waktu telah kuakad ikhlas, namun di tengah perjalanan, badainya angin silam menepikanku di persimpangan ragu. Lagi-lagi engkau datang … Lanjutkan membaca Ini Rindu

Engkau Yang Datang Dari Belukarnya Waktu

Aku terbius.Rangkaian aksaramu selayak bait-bait asmaraloka mewarnai putihnya lembaran-lembaran hari. Diksimu selayak ruh membangkitkan metafora serpihan rasa, antara cinta, rindu dan air mata. Indah tuturmu nan pujangga bertaburan. Selayak hujan dinginkan musim panas. Selayak air basahkan kerontangnya dahaga. Membawa seluruh renung yang tak sudah, lesabkan harap mengepak kembali sayap yang patah sebelah. Wahai Tuan, yang … Lanjutkan membaca Engkau Yang Datang Dari Belukarnya Waktu

Memuat…

Something went wrong. Please refresh the page and/or try again.


Ikuti Blog Saya

Dapatkan konten baru yang dikirim langsung ke kotak masuk Anda.